Kisah Pedagang Merah Putih, Meraih Harapan pada Tiap Lipatan

Abdul Rochman (45) Pedagang Bendera Merah Putih di Jalan Sultan Agung, Way Halim Bandar Lampung saat ditemui Warna.co | foto Aidhil Aqbar Putra
Abdul Rochman (45) Pedagang Bendera Merah Putih di Jalan Sultan Agung, Way Halim Bandar Lampung saat ditemui Warna.co | foto Aidhil Aqbar Putra

Warna.co, Bandar Lampung – Ditepian jalan yang ramai berbaur dalam gemuruh mesin dan klakson, merah putih berkibar tanpa henti lembut dibelai angin.

Terselip diantara pernak pernik nasionalisme itu, pedagang-pedagang tabah berdiri, membawa beban impian dan harapan yang mengantung di setiap helai Bendera Pusaka.

Bacaan Lainnya

Merah putih lambang keberanian, membawa semangat Pak Abdul Rochman yang menghamparkan doanya dalam meraih penghasilan di tepi Jalan Sultan Agung, Way Halim Bandar Lampung.

Pria berusia 45 tahun itu rela melakukan perjalanan dari kampung halamannya di Bandung, Jawa Barat, untuk membawa pulang laba pada setiap lipatan dan kembali pada keluarganya.

“Saya dari Bandung ke Bandar Lampung, memang sudah rutin dari tahun 2008, saya kesini jualan bendera setiap momen menjelang 17 Agustus,” katanya menyambut hangat saat diwawancarai, warna.co, Kamis (8/8/2024).

Tahun demi tahun, pria berkumis tipis ini meninggalkan pekerjaan hariannya sebagai tukang kebun untuk berjualan Bendera Merah Putih yang besar dan yang kecil. Semua Ia jual dengan penuh syukur, walaupun penghasilan tak sebesar impian.

“Beda dari tahun-tahun sebelumnya, sekarang penjualan sedang menurun. Untuk pembeli bendera sekarang kurang ramai, hari ini saja baru empat bendera yang laku,” ujar Pak Abdul sambil mengelus-elus sang pusaka.

Pedagang Bendera Merah Putih asal Bandung yang menjajakan lapak di Jalan Sulan Agung, Way Halim Bandar Lampung | foto Aidhil Aqbar Putra
Pedagang Bendera Merah Putih asal Bandung yang menjajakan lapak di Jalan Sulan Agung, Way Halim Bandar Lampung | foto Aidhil Aqbar Putra

Setiap potongan bendera, Pak Abdul menghargai mulai dari Rp25 ribu sampai dengan Rp250 ribu. Angka-angka itu tak dikantonginya jika ada tawar menawar dari pembeli.

Dibalik semua itu tetap ada harga yang tak ternilai, karena sang Merah Putih yang dikibarkan diatas trotoar mengingatkan kita akan cinta pada tanah air.

“Bendera ini buatan orang garut, saya cuma menjuali saja, harganya Rp25 ribu yang kecil ini dan yang besar panjang Rp250 ribuan,” ucapnya dengan bangga menunjukan produknya.

Selama di Bumi Ruwa Jurai, Pak Abdul tinggal bersama paguyuban pedagang Bendera Merah Putih asal Bandung lainnya.

“Ngontrak di belakang Transmart sini, sama teman-teman yang bareng saya, sebulan Rp500 ribu,” imbuh pria yang mengenakan kaos hitam tersebut.

Ia memberitahukan bahwa, dirinya sudah berada di Kota Tapis Berseri sejak 28 Juli lalu, dan membawa pulang rezekinya pada satu hari sebelum Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia.

“Telepas habis terjual atau tidak, saya pulang nanti tanggal 16 Agustus,” pungkasnya.***

Laporan : Aidhil Aqbar Putra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *