Dari Angklung hingga Tapis, Lapas Perempuan Lampung Ubah Stigma Penjara Jadi Kawah Kreativitas

Warna.co, Bandar Lampung – Siapa bilang penjara itu cuma berisi cerita suram? Di Lapas Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung, para warga binaan justru menemukan kawah candradimuka untuk mengasah bakat dan kreativitas.

Alih-alih seram, suasana di balik jeruji besi ini justru terasa lebih humanis dan penuh warna. Kepala Lapas Perempuan, Ratna Dwi Lestari, membeberkan komitmennya dalam sebuah wawancara dengan SMSI Bandar Lampung.

Bacaan Lainnya

“Lapas perempuan itu tidak seseram yang orang bayangkan. Kami punya banyak program positif, dari musik, kerajinan, sampai olahraga,” ungkap Kalapas Ratna.

Musik Tradisional hingga Fashion Tapis
Salah satu program yang paling mencuri perhatian adalah seni. Para warga binaan mendapat pelatihan angklung langsung dari pelatih profesional yang didatangkan dari Yogyakarta. Bayangkan, alunan musik tradisional ini kini mengisi sudut-sudut lapas, memberikan nuansa yang berbeda.

Tak cuma musik, kreativitas warga binaan juga disalurkan melalui kerajinan tangan. Mereka dilatih membuat kain tapis, kerajinan khas Lampung.

Ratna menjelaskan, Lapas bekerja sama dengan butik-butik tapis untuk memasarkan hasil karya mereka secara daring maupun melalui sales butik.

“Mereka punya target produksi. Ini membuat mereka merasa dihargai dan produktif,” tambah Ratna.

Selain tapis, ada juga pelatihan membatik dan kerajinan lain yang tak kalah menarik. Program-program ini tidak hanya mengisi waktu luang, tapi juga membekali mereka dengan keterampilan yang bisa dipakai setelah keluar dari Lapas.

Wawasan dan Hak Perempuan Tetap Terjamin Pembinaan di sini tidak hanya soal keterampilan. Untuk menunjang wawasan, Lapas menyediakan perpustakaan daring yang bisa diakses dengan pengawasan petugas.

Selain itu, ada wartel khusus yang memungkinkan mereka berkomunikasi dengan keluarga, mengurangi beban emosional yang sering dialami warga binaan.

Ratna juga menekankan soal hak asasi perempuan, terutama bagi mereka yang memiliki anak. “Negara menjamin hak ibu untuk mendampingi anaknya sampai usia tiga tahun,” jelasnya.

Ini menunjukkan pendekatan yang lebih manusiawi dan berpihak pada hak-hak dasar perempuan. Saat ini, tercatat ada 4 bayi yang dirawat bersama ibunya di Lapas ini, dari total 222 warga binaan.

Bimbingan Spiritual dan Pembinaan Jangka Panjang. Selain kegiatan fisik dan kreativitas, bimbingan rohani juga tak luput dari perhatian. Warga binaan diberikan pembinaan membaca Al-Qur’an dan kegiatan keagamaan lainnya.

Hebatnya lagi, pembinaan ini tidak berhenti saat mereka bebas. Ratna memastikan bahwa Balai Pemasyarakatan akan terus memantau mereka yang sudah bebas bersyarat.

“Mereka tetap diarahkan untuk melakukan kegiatan positif setelah keluar,” pungkas Ratna.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *