Baca Bataranila, Menyulap Koleksi Buku Menjadi Ruang Inspirasi

Foto Founder Baca Bataranila Purwanto (kanan), saat berbincang dengan Host Kongsi Nopriansyah || Warna.co
Foto Founder Baca Bataranila Purwanto (kanan), saat berbincang dengan Host Kongsi Nopriansyah || Warna.co

Warna.co, Bandar Lampung – Di tengah hiruk pikuk kehidupan perkotaan, sebuah perpustakaan dan ruang temu yang unik di Lampung Selatan telah mengubah paradigma membaca menjadi pengalaman yang memesona dan inspiratif. Namanya, Baca Bataranila.

Dengan ribuan koleksi buku yang disusun estetika berkonsep kafe instagramable, dan desain rak-rak yang disatukan secara harmonis, Baca Bataranila tidak hanya menjadi tempat untuk menimba ilmu. Tetapi juga menyajikan pengalaman visual yang memukau.

Bacaan Lainnya

Perpustakaan dan Ruang Temu yang berada di Perumahan Bataranila, Jl Teratai No.574, Hajimena, Natar, Lampung Selatan itu dirancang dengan apik, menciptakan suasana yang mengundang untuk mengeksplorasi dunia literasi.

Founder Baca Bataranila, Purwanto mengatakan, Baca Bataranila tidak hanya sebuah perpustakaan, tetapi juga sebuah ruang inspirasi yang memancarkan semangat untuk terus belajar dan berkembang. Melalui konsep uniknya, lokasi ini membuktikan bahwa minat baca dapat ditingkatkan dengan cara yang kreatif dan menarik.

”Baca Bataranila, dibuka sejak pertengahan tahun 2023. Lampung merupakan lokasi kedua, sebelumnya Jakarta Selatan yang notabene awal mula berdiri. Lalu yang ketiga baca di Ciremai itu berlokasinya di kaki gunung Ciremai, dan yang keempat berada di Borobudur Magelang,” ungkap Purwanto, Selasa (13/2/2024)

Dari awal, Purwanto telah memiliki ribuan koleksi buku. Untuk menyimpannya, Ia merancang ruang perpustakaan khusus. Namun, seiring berjalannya waktu, desain minimalis, rapi, dan unik dari perpustakaannya menarik perhatian teman dan kerabat dekatnya. Setiap sudutnya dirancang dengan detail sehingga menjadi tempat yang nyaman dan “instagramable”.

”Sejak awal saya memang memiliki ribuan koleksi buku, sehingga untuk mengarsipkannya saya buat ruang perpustakaan khusus yang mengusung tema Perpustakaan dan Ruang Temu yang konsepnya bukan sesuatu hal yang eksklusif. Namun seiring berjalannya waktu, teman dan kerabat dekat berkunjung merasa nyaman dengan konsep desain minimalis ini rapi dan unik,” ungkapnya.

Purwanto menjelaskan bahwa Baca di Bataranila memiliki koleksi sekitar tujuh ribu bahan pustaka, mencakup berbagai genre dari buku anak-anak hingga dewasa, baik fiksi maupun nonfiksi. Antusiasme masyarakat terhadap perpustakaan ini cukup tinggi, dengan pengunjung yang datang hampir setiap hari, kecuali hari Senin.

”Jadi siapapun yang ingin mereplikasi dengan karakternya masing-masing dengan situasi lingkungan masing-masing, dipersilahkan. Kami juga terbuka untuk diskusi-diskusi agar bisa menjadi pelajaran apabila ingin membuka rumah baca ini. Inilah, yang menjadi trigger akhir yang memantapkan saya untuk membuka Baca di Bataranila ini,” jelasnya.

Ketika ditanya tentang biaya pembangunan perpustakaan, Purwanto mengungkapkan bahwa sekitar 90 persen dari biaya tersebut berasal dari kantong pribadinya. Keputusan ini diambil dengan tujuan untuk menarik perhatian masyarakat, khususnya kaum muda, untuk mengembangkan minat baca di Provinsi Lampung.

”Sejauh ini baca di Batara Nila pure dari kantong pribadi kita sendiri hampir 90 persen merupakan modal sendiri. Hal ini dilakukan, demi menarik masyarakat terutama kaula muda untuk mengembangkan minat baca terutama di Provinsi Lampung,” ujarnya.

Selain sebagai pusat literasi, Baca di Bataranila juga mengembangkan konsep sosial entrepreneurship, menjelaskan bagaimana perpustakaan ini bisa berdiri dan dikembangkan, serta menggalang ide-ide yang mendukungnya.

Purwanto juga menyampaikan harapannya untuk meningkatkan minat baca di Provinsi Lampung, terutama di kalangan generasi muda. Melalui berbagai program dan pengembangan yang tepat, ia berharap dapat mendukung literasi dan mengubah paradigma terhadap kegiatan membaca di komunitas lokal.

“Yang kita lihat bahwa minat baca di provinsi Lampung sangat kecil hal itu terlihat dari indeks-indeks yang disampaikan. Mudah-mudahan nanti, banyak program dan pengembangan yang bisa dilakukan untuk mendukung literasi dan untuk mengembangkan minat baca terutama generasi muda saat ini,” pungkasnya.

Baca Bataranila bukan hanya tentang estetika visual semata. Lebih dari itu, kehadiran perpustakaan ini menginspirasi kita untuk bertindak nyata dalam memperjuangkan minat baca dan literasi di lingkungan kita masing-masing. Dengan melihat dedikasi pendiri dan keindahan ruang yang diciptakan, kita diajak untuk menemukan semangat baru dalam menjelajahi dunia buku dan pengetahuan.

Dalam kesibukan sehari-hari, seringkali kita melupakan pentingnya membaca dan terus mengembangkan diri. Namun, Baca Bataranila mengingatkan kita bahwa membaca bukanlah sekadar kegiatan rutin, melainkan sebuah perjalanan spiritual dan intelektual yang dapat mengubah hidup kita. Dengan tekad dan dedikasi, kita semua memiliki potensi untuk membuat perubahan positif yang berdampak luas bagi masyarakat.***

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *