Strategi Gorengan Sriwijaya Tetap Eksis Selama 30 Tahun

Pemilik warung Gorengan Sriwijaya, Ci Neneng (58) saat mengungkapkan rahasia di balik kesuksesan bisnisnya | Foto Ahmad Riko-warna.co
Pemilik warung Gorengan Sriwijaya, Ci Neneng (58) saat mengungkapkan rahasia di balik kesuksesan bisnisnya | Foto Ahmad Riko-warna.co

Warna.co, Bandar Lampung – Selama tiga dekade terakhir, Gorengan Sriwijaya telah menjadi nama yang tidak asing bagi warga Bandar Lampung.

Beralamat di Jalan Laksamana No. 38, Pesawahan, Kecamatan Teluk Betung Selatan, warung ini tidak hanya dikenal karena gorengannya yang enak tetapi juga karena ukurannya yang jumbo.

Bacaan Lainnya

Sejak pertama kali dibuka pada tahun 1994, Gorengan Sriwijaya telah menyajikan pengalaman kuliner yang tak tertandingi, dan menjadi ikon kuliner di kota ini.

Lantas, Apa yang membuat Gorengan Sriwijaya masih laris manis hingga saat ini?. Rahasianya terletak pada dua faktor utama ukuran dan kualitas.

Owner Gorengan Sriwijaya, Bu Neneng, atau lebih dikenal sebagai Cineneng (58) oleh pelanggannya, mengungkapkan bahwa mereka selalu menjaga kualitas dan ukuran produk mereka.

Gorengan Sriwijaya yang disajikan di sini bukan hanya besar, tetapi juga dibuat dengan bahan-bahan berkualitas tinggi.

“Gorengan besar dengan rasa yang enak, itulah yang membuat pelanggan selalu kembali,” jelas Bu Neneng.

Menu andalan di Gorengan Sriwijaya sangat beragam, mulai dari pisang goreng, bakwan, tempe, ubi (mantang), sukun, hingga tahu yang diisi sayuran.

Setiap potongan gorengan tidak hanya menggoda selera, tetapi juga mengenyangkan, dan harganya tetap terjangkau di kisaran Rp 5.000 per potong. Keberagaman menu ini memberikan pilihan kepada pelanggan dan memastikan bahwa ada sesuatu untuk setiap selera.

GorengN Sriwijaya di Jalan Laksamana No. 38, Pesawahan, Kecamatan Teluk Betung Selatan \Foto Ahmad Riko-warna,co
GorengN Sriwijaya di Jalan Laksamana No. 38, Pesawahan, Kecamatan Teluk Betung Selatan \Foto Ahmad Riko-warna,co

Tidak hanya itu, keberhasilan Gorengan Sriwijaya juga dapat dikaitkan dengan pelayanannya yang ramah dan lokasi strategisnya. Atmosfer hangat dan sambutan ramah dari Bu Neneng menambah nilai tambah pada pengalaman makan di sini.

“Warung ini buka setiap hari dari pukul 13.30 hingga 21.00 WIB, sehingga memudahkan berbagai kalangan—mulai dari pelajar, mahasiswa, pekerja, hingga lanjut usia—untuk menikmati gorengan jumbo ini setelah beraktivitas,” jelasnya.

Dari segi ekonomi, Gorengan Sriwijaya menunjukkan model bisnis yang menguntungkan. Dengan modal harian sekitar Rp 600.000 untuk bahan baku, warung ini mampu meraih keuntungan lebih dari Rp 1 juta setiap hari. Angka ini mencerminkan tingkat permintaan yang tinggi dan kepuasan pelanggan yang konsisten.

Meskipun beroperasi selama 30 tahun, Gorengan Sriwijaya tidak terjebak dalam rutinitas. Mereka terus berinovasi dengan memastikan bahwa ukuran dan rasa tetap konsisten.

“Saya sudah 13 tahun saya langganan di sini. Rasanya tetap konsisten, dan ukurannya bikin puas. Satu potongan saja kita bisa merasa kenyang,” ujar Pelanggan Gorengan Sriwijaya, Hajah (42).

Keberhasilan ini membuktikan bahwa inovasi sederhana dalam bisnis kuliner tradisional—seperti menjaga kualitas dan menawarkan ukuran yang unik—dapat membantu bisnis bertahan lama dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.

Gorengan Sriwijaya adalah contoh cemerlang bagaimana bisnis kuliner tradisional dapat berkembang dan bertahan lama dengan prinsip-prinsip dasar yang sederhana kualitas, ukuran, dan pelayanan.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *