Lampung – Rasa lelah, overthinking, hingga krisis eksistensial bukan lagi hal asing di tengah generasi masa kini. Dari keresahan itu, Yoga Pratama, seorang pegiat literasi asal Lampung, menuangkannya menjadi sebuah karya reflektif bertajuk Menemukan Damai dalam Kegelisahan Hidup.
Buku ini hadir sebagai undangan untuk berdamai dengan diri sendiri. Yoga menulisnya bukan karena sudah pulih sepenuhnya, melainkan sebagai teman seperjalanan bagi siapa pun yang tengah mencari jati diri.
“Berdamai dengan diri sendiri bukan tujuan yang bisa dicapai dalam semalam. Ia proses panjang yang dipenuhi rasa takut, keraguan, dan terkadang putus asa,” tulis Yoga dalam bukunya.
Lewat kisah dan refleksi yang jujur, Yoga mengurai akar dari rasa “tidak cukup” yang kerap menghantui. Perasaan kurang itu sering kali muncul karena kita membandingkan diri dengan standar dari luar: prestasi orang lain, ekspektasi lingkungan, hingga tekanan budaya kompetitif sejak kecil.
Alih-alih memberi resep instan, buku ini menghadirkan potongan pengalaman dan latihan yang bisa pembaca sesuaikan sendiri. Yoga mengajak pembaca kembali mengenali luka-luka lama, menerima ketidaksempurnaan, lalu perlahan melangkah menuju hidup yang lebih selaras dengan hati.
Menemukan Damai dalam Kegelisahan Hidup bukan sekadar buku motivasi, melainkan pelukan diam bagi mereka yang tengah merasa tersesat. Setiap halaman mengingatkan bahwa yang paling tahu cara mencintai diri adalah diri kita sendiri.***






