Warna.co, BANDAR LAMPUNG – Bayangin, kamu harus suntik setiap hari selama 8 bulan, lalu lanjut minum obat sampai 2 tahun ke depan. Nggak cuma sakit badan, tapi juga mental, karena nggak semua orang paham perjuangan kamu.Perjuangan lawan TBC juga makin digital. Tahun 2023, muncul aplikasi keren bernama Lapor TBC.
Nah, dari situ lahir satu gerakan keren Sobat Sehat Lampung. Dipimpin oleh Ardiansyah, seorang penyintas TBC yang sekarang jadi motor penggerak, komunitas ini bukan cuma tempat curhat. Ini juga tempat buat bangkit dan bantu sesama.
Dari yang awalnya ngobrol soal obat dan efek samping, mereka sadar pasien TBC butuh dukungan nyata teman yang ngerti, dan tempat buat didengar.
“TBC itu nggak cuma soal medis. Tapi juga soal mental, sosial, bahkan stigma. Kita di sini buat nemenin mereka yang lagi berjuang,” ujar Ketua Sobat Sehat Lampung, Ardiansyah.
Didirikan resmi pada September 2022, Sobat Sehat Lampung punya sekitar 20 anggota aktif, dan setengahnya turun langsung dampingi pasien TBC. Mereka jadi semacam “kakak pendamping” yang siap datang ke rumah sakit, ngasih semangat, bahkan bantu urus hak-hak pasien.
Nggak cuma lokal, mereka juga udah terhubung ke POP TB Indonesia, jaringan nasional organisasi pasien. Jadi suara mereka makin kuat!
Perjuangan lawan TBC juga makin digital. Tahun 2023, muncul aplikasi keren bernama Lapor TBC.
Menurut Ulfatun Nissa, koordinator Lapor TBC di Lampung, aplikasi ini bukan cuma buat cari info. Tapi juga bisa Curhat dan cari suppor, Laporkan diskriminasi, Dapat akses ke faskes terdekat, Minta bantuan hukum lewat tim paralegal.
“TBC itu bukan aib. Tapi kenyataan yang harus kita hadapi bareng. Lewat aplikasi ini, kita hadir bukan cuma secara medis, tapi juga jadi teman seperjuangan,” ungkap Nissa.
Meski bukan penyintas, Nissa terjun langsung bantu pasien. Karena buatnya, ini bukan sekadar kerjaan tapi panggilan hati.
Kamu perlu tahu, Indonesia jadi negara ke-2 terbanyak kasus TBC di dunia. Di tahun 2025 ini aja, Lampung udah catat lebih dari 21 ribu kasus.
Masalahnya bukan cuma soal pengobatan, tapi juga tingginya angka putus berobat. Banyak yang nyerah di tengah jalan karena efek samping obat, atau karena dijauhi lingkungan. Dan di sinilah Sobat Sehat Lampung hadir, jadi pelita di tengah kegelapan.
“TBC itu bisa sembuh. Tapi kita semua harus berdiri bareng, hapus stigma, dan rangkul yang sedang berjuang,” sambung Ardiansyah.
Lewat semangat penyintas, kekuatan komunitas, dan sentuhan teknologi, perjuangan lawan TBC di Lampung kini punya wajah baru. Bukan cuma tentang penyakit, tapi soal kemanusiaan, solidaritas, dan harapan. Karena kadang, satu dukungan kecil bisa jadi alasan seseorang untuk tetap bertahan.






