Warna.co, Bandar Lampung – Realisasi investasi di Bandar Lampung pada tahun 2023 mencapai Rp3,6 triliun, melampaui target yang ditetapkan. Pertumbuhan ini menunjukkan minat yang meningkat dari para investor terhadap potensi yang dimiliki oleh kota Berjuluk Tapis Berseri.
Meskipun sempat mengalami keterlambatan pada triwulan III 2023, realisasi investasi pada triwulan IV melonjak tajam. Hal ini menyoroti pentingnya kerja ekstra dalam memperkenalkan potensi-potensi yang dimiliki oleh kota ini kepada para investor, serta perlunya pemerintah kota memberikan perlakuan yang baik dan kenyamanan bagi para investor.
Menyikapi pertumbuhan yang signifikan ini, Ketua DPRD kota Bandar Lampung, Wiyadi, menekankan pentingnya kerja ekstra dalam memperkenalkan potensi-potensi yang dimiliki oleh kota ini kepada para investor.
”Pentingnya pemerintah kota dalam memberikan perlakuan yang baik kepada para investor, serta memberikan kenyamanan dan kepastian hukum bagi mereka,” kata Wiyadi, Jumat (2/2/2024).
Dengan demikian, Bandar Lampung terus menunjukkan potensinya sebagai destinasi investasi yang menjanjikan.
”Dengan pertumbuhan investasi yang impresif ini, kota Bandar Lampung terus menunjukkan potensinya sebagai destinasi investasi yang menjanjikan. Meskipun target investasi untuk tahun 2024 belum ditetapkan, harapan akan pertumbuhan yang berkelanjutan dan pemerataan investasi di berbagai sektor tetap menjadi fokus bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan di kota ini,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, Kepala DPMPTSP Kota Bandar Lampung, Muhtadi Arsyad Temenggung, mengungkapkan bahwa realisasi investasi tersebut mencerminkan pertumbuhan yang signifikan, melampaui target yang telah ditetapkan. Dari target yang diberikan Rp3,4 triliun itu, sampai dengan triwulan IV 2023, terrealisasi Rp3,6 triliun. Ini melebihi target yang ditetapkan sebesar 100,593 persen
”Dalam rincian, investasi tersebut terbagi atas penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp2,4 triliun dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp1,2 triliun. Sementara, sektor yang menjadi penyumbang terbesar adalah sektor tersier, dengan nilai investasi mencapai Rp2,6 triliun, baik dari PMDN maupun PMA. Disusul oleh sektor sekunder dengan investasi sebesar Rp912,5 miliar, dan sektor primer dengan investasi Rp81,6 miliar,” ujar dia.***






