Warna.co – Rangkayo Rasuna Said, Sosok Terkemuka dari Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI), dikenal dengan julukan Singa Minangkabau lantaran tak tinggal diam oleh Penindasan Hindia-Belanda saat itu, bahkan sampai ditahan dan diasingkan dalam perjuangannya.
Perempuan pejuang, Rasuna Said telah memberikan kontribusi besar bagi perjuangan Indonesia menuju kemerdekaan. Sebagai seorang wanita muda di masa itu, Ia menekankan pentingnya persamaan hak antara pria dan wanita, sejalan dengan semangat Kartini.
Pendidikan dan Bakat Awal
Rasuna Said menunjukkan bakat dan kecerdasannya sejak masa kecil. Pendidikannya dimulai di Sekolah Desa di Maninjau hingga kelas 5, kemudian melanjutkan ke Sekolah Diniyah di Padangpanjang. Kembali ke Mininjau setelah gempa besar pada tahun 1926, Rasuna belajar di sekolah yang dipimpin oleh H. Abdul Majid, seorang tokoh dari golongan “Kaum Tua.”
Aktivitas dalam Pergerakan Rakyat
Peran Rasuna Said semakin mencuat ketika ia bergabung dengan perhimpunan Islam “Sumatra Thawalib” dan belajar di Sekolah “Thawalib” di Payinggahan Maninjau. Pada tahun 1926, ia menjadi anggota “Sarikat Rakyat” (SR), yang kemudian bermetamorfosis menjadi Partai Serikat Islam Indonesia (PSII). Rasuna juga aktif di Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI), sebuah partai politik yang didirikan oleh “Sumatra Thawalib.”
Kegiatan Luar Biasa di PERMI
Di dalam PERMI, Rasuna Said menonjolkan diri dengan kegiatan yang luar biasa. Ia memberikan kursus pemberantasan buta huruf dengan nama sekolah “Menyesal.” Selain itu, Rasuna membuka Sekolah Thawalib Rendah di Padang, mengajar di “Sekolah Thawalib Puteri,” dan memimpin “Kursus Putri” serta “Kursus Normal” di Bukit Tinggi. Semua upayanya bertujuan untuk mendidik kader-kader partai PERMI.
Peran dalam Perjuangan Nasional
PERMI berkembang pesat di seluruh Sumatra Barat dan wilayah lainnya, menjadi kekuatan politik yang signifikan. Meskipun kariernya di PSII terputus karena disiplin internal, Rasuna tetap setia pada PERMI. Kiprahnya dalam pergerakan nasional membangun pondasi yang kuat untuk Indonesia meraih kemerdekaannya.
Kehidupan Pribadi dan Pengakuan sebagai Pahlawan Nasional
Meski tidak banyak yang diketahui tentang kehidupan rumah tangganya, Rasuna Said menikah dengan Dusky Samad, dan dari pernikahan tersebut mereka memiliki seorang puteri bernama Auda. Rasuna Said meninggal dunia pada tanggal 2 November 1965 karena penyakit kanker. Pemerintah Indonesia menghargai jasanya dan pada tanggal 13 Desember 1974, melalui Surat Keputusan Presiden RI No: 084/TK/Tahun 1974, Rasuna Said dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Legacy dan Penghargaan
Hajjah Rasuna Said menjadi inspirasi bagi generasi penerus dalam memperjuangkan hak-hak dan keadilan. Dedikasinya terhadap pendidikan dan perjuangan politik menjadikan namanya dikenang sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Dengan penghargaan tersebut, pemerintah memberikan penghormatan atas jasa-jasanya yang tak terlupakan dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.






