Kegiatan ini menyasar anak-anak binaan Komunitas Mat Peci Ciliwung Komunitas Mat Peci Ciliwung sebagai kelompok yang dinilai paling rentan terhadap paparan informasi menyesatkan di ruang digital. Program tersebut merupakan bagian dari skema Pengabdian Kepada Masyarakat Wilayah Binaan Fakultas/Sekolah Pascasarjana (PPM-WBF) Tahun 2026 yang difasilitasi oleh LPPM UNJ.
Tim pengabdian dipimpin oleh Sandy Allifiansyah, M.A., Ph.D., bersama anggota Dr. M. Fikri Akbar, M.Si., M.M., dan Noprita Herari, M.I.Kom., dengan dukungan mahasiswa UNJ. Fokus kegiatan diarahkan pada penguatan kemampuan dasar anak dalam memahami informasi digital secara kritis, termasuk mengenali ciri-ciri hoaks yang banyak beredar di media sosial.
Berbeda dari pendekatan edukasi konvensional, kegiatan ini dirancang berbasis interaksi langsung melalui permainan edukatif, diskusi ringan, dan simulasi sederhana. Metode tersebut dipilih untuk menyesuaikan karakter peserta yang masih berada pada usia anak-anak, sehingga materi literasi dapat lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua tim pengabdian, Sandy Allifiansyah, menekankan bahwa penguatan literasi digital pada anak bukan hanya soal kemampuan mengakses teknologi, tetapi juga membangun ketahanan terhadap arus informasi yang tidak valid.
“Anak-anak perlu dibekali kemampuan dasar untuk memilah informasi sejak dini. Ini penting agar mereka tidak menjadi korban sekaligus penyebar hoaks di kemudian hari,” ujarnya.
Sementara itu, anggota tim pengabdian, Dr. M. Fikri Akbar, menegaskan bahwa literasi media memiliki dimensi yang lebih luas dari sekadar keterampilan teknis. Menurutnya, kemampuan berpikir kritis dan sikap bertanggung jawab dalam bermedia digital menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter generasi muda.
“Kami tidak hanya mengajarkan cara menggunakan media, tetapi juga bagaimana bersikap kritis, etis, dan menghargai keberagaman informasi,” jelasnya.
Dari sisi komunitas, Ketua Komunitas Mat Peci Ciliwung, Usman Firdaus, S.Kom., menilai kegiatan ini menjawab kebutuhan nyata masyarakat di wilayah bantaran sungai, yang kini juga menjadi bagian dari ekosistem digital.
“Anak-anak sekarang hidup di dua ruang sekaligus, ruang fisik dan ruang digital. Edukasi seperti ini membantu mereka lebih siap menghadapi keduanya,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, UNJ menegaskan peran perguruan tinggi tidak hanya sebagai pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga sebagai motor penguatan ketahanan informasi di masyarakat. Kolaborasi antara kampus dan komunitas diharapkan dapat menjadi langkah strategis dalam membangun generasi yang lebih kritis, cerdas digital, dan tahan terhadap disinformasi.***