Warna, Bandar Lampung – Upaya meningkatkan minat baca anak bukanlah tugas yang mudah, terutama di kawasan marjinal. Bahkan tidak sedikit yang menolak Komunitas Jendela Lampung dalam aksinya mengkampanyekan budaya literasi.
Hal tersebut disampaikan Kepala Koordinator Program Jendela Lampung, Asta Yuliantara, saat menjadi narasumber podcast Kongsi, di sekretariat Serikat Media Siber (SMSI) Kota Bandar Lampung, Jumat (9/2).
Menurut Asta, sejak berdiri komunitas ini pada 13 November 2014, Jendela Lampung telah berkomitmen untuk memberikan kontribusi terhadap pendidikan literasi anak usia dini. Khususnya pada warga yang tinggal sekitar wilayah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bakung.
”Dipicu oleh kesadaran akan rendahnya tingkat literasi di Indonesia, terutama di daerah-daerah terpinggirkan. Sehingga kami membangun visi untuk meningkatkan minat membaca,” ujar Asta.
Asta mengaku, perjalanan para relawan tidaklah mudah lantaran banyak para orang tua awalnya menolak gagasan tersebut. Sebagian warga diwilayah TPA Bakung beralasan bahwa anak-anak lebih baik menghabiskan waktu untuk mencari uang daripada fokus pada pendidikan.
”Beberapa dari mereka bahkan menggantungkan hidup dengan mengais rezeki dari sampah di TPA Bakung. Namun, dengan kesabaran dan penjelasan yang diberikan, akhirnya para orang tua pun memahami pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka,” jelasnya.
Tantangan lainnya, lanjut Asta, salah satunya adalah kurangnya relawan yang bergabung dalam komunitas Jendela Lampung. Saat merintis anggota hanya ada tujuh orang.
”Kendala dari faktor internal perihal personel, namun hal ini tidak mengurungkan niat kami untuk terus berusaha meningkatkan minat baca anak-anak di daerah tersebut,” tambahnya.
Bahkan saat ini Jendela Lampung berhasil menggaet sebanyak 80 anak, yang berasal dari berbagai usia, mulai dari 3 tahun hingga kelas 2 SMP.
Menariknya, komunitas ini juga tidak menutup diri terhadap anak-anak berkebutuhan khusus. Mereka memberikan perhatian khusus dan mencoba mengajarkan melalui berbagai cara, meskipun masih ada kekurangan dalam hal pengajaran bahasa isyarat.
”Saat ini, kami sudah mendapatkan dukungan dari berbagai donatur, namun tetap terbuka untuk menerima donasi lebih lanjut guna memperluas akses pendidikan anak-anak,” ungkapnya.
Dengan segala perjuangan dan tantangan yang dihadapi, Komunitas Jendela Lampung terus berupaya menjadi agen perubahan dalam meningkatkan minat baca anak-anak. Mereka percaya bahwa melalui literasi dan pendidikan, anak-anak dapat memiliki masa depan yang lebih baik dan berkesempatan untuk meraih mimpi-mimpi mereka.
Semangat dan komitmen Jendela Lampung, menjadi inspirasi bagi kita semua untuk ikut berkontribusi dalam menciptakan perubahan positif di masyarakat melalui pendidikan.***






