Warna.co, Bandar Lampung — Upaya menjaga Taman Nasional Way Kambas (TNWK) tidak berhenti setelah titik api berhasil dipadamkan. Pemerintah Provinsi Lampung bersama TNI, Polri, dan pengelola kawasan terus memperkuat pengamanan serta membangun sistem mitigasi untuk memastikan kawasan konservasi tersebut tetap aman bagi satwa, khususnya gajah Sumatera, sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal memastikan hingga saat ini tidak lagi ditemukan titik api di kawasan TNWK yang memiliki luas sekitar 120.000 hektare.
“Dalam laporan tadi sudah tidak ada lagi titik-titik kebakaran, tidak ada lagi titik-titik api yang terjadi di 120.000 hektare wilayah TNWK,” ujar Gubernur Mirza saat meninjau TNWK, Lampung Timur, Senin (31/8/2026).
Peninjauan dilakukan bersama Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi, Karo Ops Polda Lampung Kombes Pol Fadly Munzir Ismail, Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah, Kepala Balai TNWK MHD. Zaidi, serta jajaran terkait.
Meski kondisi kawasan telah dinyatakan bebas titik api, upaya pencegahan tetap dilakukan. Personel pemadam kebakaran dan kepolisian masih disiagakan untuk memantau kawasan sekaligus bergerak cepat apabila kembali muncul potensi kebakaran.
“Teman-teman dari pemadam, teman-teman dari kepolisian masih standby di sini, di sekitar TNWK. Ada yang melakukan sosialisasi, ada yang menjaga monitoring dan lain-lain,” kata Mirza.
Pemerintah juga mengandalkan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk membantu menjaga kelembapan kawasan. Operasi tersebut dipantau dari Bandara Radin Inten II dan dilakukan secara berkala sebagai bagian dari langkah antisipasi agar kondisi kawasan tidak mudah terbakar.
Perhatian terhadap keselamatan satwa menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla di TNWK. Setelah muncul informasi mengenai gajah yang disebut terdampak kebakaran, Gubernur Mirza bersama rombongan turun langsung melihat kondisi satwa di dalam kawasan.
Dengan menggunakan kendaraan jeep, rombongan menyusuri kawasan TNWK dan melihat sejumlah gajah, termasuk anak gajah yang masih aktif bergerak, makan, dan bermain.
“Alhamdulillah kita melihat gajah-gajah kita sehat walafiat, makan, main. Anak-anak gajah yang kecil juga masih sangat-sangat semangat,” ujar Mirza.
Kondisi tersebut menjadi kabar positif di tengah upaya pemerintah menjaga TNWK sebagai salah satu kawasan penting bagi kelangsungan habitat gajah Sumatera.
Namun, menjaga gajah tidak cukup hanya dengan memastikan kawasan terbebas dari kebakaran. Konflik antara satwa dan manusia juga menjadi persoalan yang perlu ditangani secara berkelanjutan.
Untuk mencegah gajah keluar dari kawasan konservasi dan masuk ke permukiman warga, pemerintah bersama sejumlah pihak membangun berbagai fasilitas mitigasi.
Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi mengatakan pembangunan tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan Kementerian Kehutanan dan Komite Satgas Mitigasi.
Sejumlah fasilitas yang dibangun antara lain pagar besi, high beam, serta struktur penghalang lainnya. Infrastruktur tersebut ditujukan untuk mengurangi kemungkinan gajah keluar dari habitatnya sehingga potensi konflik dengan masyarakat dapat ditekan.
Menariknya, mitigasi tidak hanya mengandalkan pembangunan fisik. Pemerintah juga mengembangkan pendekatan yang menggabungkan perlindungan satwa dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Tanaman serai dan budidaya lebah dikembangkan karena keduanya tidak disukai gajah. Dengan cara tersebut, masyarakat dapat memperoleh aktivitas ekonomi alternatif, sementara tanaman dan budidaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mencegah gajah mendekati permukiman.
“Jadi kita juga membangun budidaya-budidaya seperti serai, kemudian budidaya lebah yang memang serai dan lebah ini tidak disukai oleh gajah sehingga ikut mencegah bagaimana supaya gajah itu tidak keluar,” ujar Kristomei.
Pembangunan fasilitas mitigasi saat ini telah mencapai sekitar 65 persen dan ditargetkan selesai pada Oktober 2026.
Selain infrastruktur, peningkatan kemampuan petugas juga menjadi perhatian. Pemerintah menyiapkan rencana studi banding atau pembelajaran ke Thailand untuk memperkuat pengetahuan mengenai perawatan dan pengelolaan gajah.
Pengamanan kawasan TNWK juga terus diperkuat untuk mencegah kebakaran kembali terjadi. Polda Lampung bersama TNI dan Polres Lampung Timur masih menyiagakan sekitar satu peleton personel di wilayah Lampung Timur.
Selain membantu penanganan karhutla, personel juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Pemantauan diperkuat dengan penggunaan teknologi. Kepolisian memanfaatkan drone untuk mendeteksi titik panas dan menemukan potensi api yang masih tersembunyi di dalam sekam maupun material yang belum sepenuhnya padam.
Jika titik api kembali terdeteksi, penanganan dilakukan secara cepat dengan melibatkan berbagai sumber daya, termasuk water bombing dan operasi modifikasi cuaca.
Gubernur Mirza mengatakan sistem pemantauan dan respons cepat tersebut tidak hanya diterapkan di TNWK, tetapi juga mencakup seluruh wilayah Lampung. Pusat operasi di Bandara Radin Inten II menjadi salah satu titik pemantauan untuk memastikan setiap kemunculan titik api segera ditindaklanjuti.
“Ketika ada titik api yang baru, ada titik merah yang baru, itu langsung dipadamkan oleh operasi water bombing. Seluruh Lampung,” tegas Mirza.
Penguatan TNWK pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai bagaimana memadamkan kebakaran atau menjaga gajah tetap berada di habitatnya. Kawasan konservasi juga diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Karena itu, masyarakat diajak menjadi bagian dari upaya menjaga kawasan dengan tidak melakukan pembakaran lahan, perburuan liar, maupun penebangan ilegal.
Pendekatan tersebut penting agar perlindungan lingkungan tidak berjalan sendiri, tetapi seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Dengan penguatan sistem pencegahan karhutla, pembangunan fasilitas mitigasi konflik manusia dan gajah, peningkatan kapasitas petugas, serta pengembangan aktivitas ekonomi masyarakat, TNWK diharapkan menjadi kawasan yang semakin aman bagi satwa sekaligus memberi manfaat nyata bagi warga sekitar.






