Warna.co, Lampung Timur – Lampung Timur kembali menegaskan perannya sebagai lumbung padi di Provinsi Lampung.
Hal ini ditandai dengan digelarnya Gerakan Tanam Padi Serentak yang melibatkan Kodam XXI/Radin Inten, Pemerintah Provinsi Lampung, dan Pemerintah Kabupaten Lampung Timur.
Kegiatan yang berlangsung di Desa Braja Fajar dan Desa Braja Emas, Kecamatan Way Jepara, Selasa (20/1/2026), ini diikuti ratusan petani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kartika Bina Tani.
Gerakan ini menjadi bukti nyata kuatnya kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah, menyampaikan bahwa kehadiran TNI dan pemerintah provinsi memberikan dorongan besar bagi petani dan pemerintah daerah, terutama di tengah keterbatasan anggaran.
Menurut Ela, sektor pertanian tetap menjadi prioritas utama karena Lampung Timur merupakan salah satu daerah penghasil padi terbesar di Lampung.
Saat ini, luas lahan padi di Lampung Timur mencapai 55.952 hektare, terbesar kedua di tingkat provinsi.
“Walaupun anggaran pertanian masih terbatas, kolaborasi seperti ini membuat kami optimistis produksi padi dan kesejahteraan petani bisa terus meningkat,” ujar Ela.
Ia menjelaskan, Kecamatan Way Jepara akan menjadi wilayah dampingan Kodam XXI/Radin Inten dengan luas lahan awal sekitar 2.396 hektare. Ke depan, program ini berpeluang diperluas ke kecamatan lain di Lampung Timur.
Gerakan tanam padi serentak ini juga melengkapi berbagai program pertanian yang sudah berjalan sebelumnya, seperti petani mitra Adhyaksa serta optimalisasi lahan pertanian di sejumlah wilayah.
Sementara itu, Panglima Kodam XXI/Radin Inten, Mayor Jenderal TNI Kristomei Sianturi, menegaskan bahwa program ini sejalan dengan kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan ketahanan pangan sebagai fondasi utama kedaulatan bangsa.
“Kegiatan ini melibatkan sekitar 250 petani dengan luas tanam awal 500 hektare. Kami menggunakan varietas padi Inpari 32 yang berpotensi menghasilkan hingga delapan ton per hektare,” jelas Kristomei.
Ia menambahkan, ke depan TNI bersama pemangku kepentingan lainnya akan terus mendorong riset dan pengembangan teknologi pertanian. Harapannya, akan lahir varietas unggul baru dengan produktivitas mencapai 10 hingga 12 ton per hektare.
Tak hanya itu, Kodam XXI/Radin Inten juga mendorong modernisasi pertanian melalui pemanfaatan teknologi digital. Salah satunya lewat aplikasi Centurion 21 yang mengintegrasikan pemetaan drone dan analisis data untuk memprediksi hasil panen serta mendeteksi gangguan tanaman sejak dini.
“Babinsa tidak hanya mendampingi petani di sawah, tetapi juga menjadi jembatan teknologi. Dengan pendekatan berbasis data dan kecerdasan buatan, pertanian di Lampung Timur bisa lebih efisien dan berdaya saing,” katanya.***






