Warna.co – Laksamana Keumalahayati atau lebih dikenal sebagai Malahayati, merupakan sosok legendaris yang memimpin pasukan perang pertama di dunia yang terdiri sepenuhnya dari perempuan.
Malahayati tidak hanya dikenang sebagai pahlawan dalam sejarah perjuangan melawan penjajah, tetapi juga sebagai simbol keberanian dan ketangguhan perempuan. Pengabdiannya kepada bangsa dan kesultanan diakui pada 9 November 2017, ketika Presiden Joko Widodo menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional.
Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 yang merupakan hasil perjuangan para pahlawan, memuat sejarah panjang pertarungan melawan penjajah hingga mencapai puncaknya pada abad ke-16. Malahayati menjadi satu di antara kusuma bangsa tersebut.
Malahayati lahir pada 1 Januari 1550 di Aceh, merupakan cucu dari Sultan Salahuddin Syah, raja kedua Kesultanan Aceh. Ayahnya, Laksamana Mahmud Syah, memegang posisi penting sebagai Panglima Angkatan Laut Kesultanan Aceh, membawa darah biru pahlawan samudra dalam keluarganya.
Masa remajanya Malahayati dihabiskan di lingkungan istana, di mana ia mengikuti akademi militer matra angkatan laut kesultanan, Mahad Baitul Maqdis. Pada usia 35 tahun, Ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Barisan Pengawal Istana Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah selama pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil.
Namun, nasib tragis menimpanya saat suaminya, Laksamana Tuanku Mahmuddin, gugur dalam pertempuran melawan Portugis di perairan Teluk Haru dekat Selat Malaka pada tahun 1586. Tak menerima kenyataan tersebut, Malahayati bersumpah untuk melanjutkan perjuangan suaminya.
Malahayati menggantikan posisi Laksamana Tuanku Mahmuddin dan diberi pangkat laksamana oleh Sultan. Namun, keinginannya tak hanya terbatas pada itu. Dengan tekad yang kuat, Malahayati mengungkapkan rencananya kepada Sultan, untuk membangun armada tempur laut yang terdiri dari prajurit perempuan.
Inong Balee, begitu Malahayati menamakan pasukan elitnya yang terdiri dari 2.000 prajurit perempuan, diantara sekian banyak prajuritnya berstatus janda dari prajurit Kesultanan Aceh yang gugur dalam pertempuran melawan Portugis.
Dilatih dengan keras oleh Malahayati, Inong Balee menjadi pasukan tempur yang disegani, berbekal kemampuan yang didapatnya ketika menimba ilmu di Mahad Baitul Maqdis, dan dibimbing oleh instruktur perang tangguh dari Turki.
Pasukan Inong Balee terlibat dalam berbagai peperangan melawan Portugis dan Belanda, menjelajahi perairan Selat Malaka, pantai timur Sumatra, hingga Malaya. Mereka juga mendirikan Benteng Inong Balee sebagai tempat perlindungan dan pusat pelatihan tempur. Benteng ini, dengan tembok setinggi sekitar 100 meter, menjadi simbol ketangguhan perempuan Aceh dalam menghadapi musuh.
Puncak keberanian Malahayati dan Inong Balee terjadi pada 21 Juni 1599. Dua kapal Belanda, de Leeuw dan de Leeuwin, dipimpin oleh Cornelis dan Frederik de Houtman, ingin bersandar di pelabuhan Aceh Besar.
Malahayati dan pasukannya siap menghadapi mereka. Pertempuran di laut tak terelakkan, dan pasukan Inong Balee berhasil menghancurkan kedua kapal Belanda. Dalam duel satu lawan satu, Malahayati berhasil menaklukkan Cornelis de Houtman, menegaskan supremasi perempuan Aceh di medan perang.
Namun, Malahayati tak hanya pandai berperang, tetapi juga piawai dalam diplomasi. Belanda mengajukan pembebasan tawanan perang mereka, termasuk Frederik de Houtman, kepada Sultan Aceh. Malahayati diutus sebagai juru runding dan berhasil meraih syarat bahwa Belanda harus membayar ganti rugi atas peperangan tersebut.
Pada tahun 1615, Malahayati meninggal dan dimakamkan di dekat bentengnya di Desa Lamreh, Krueng Raya. Pengabdiannya kepada bangsa dan kesultanan diakui pada 9 November 2017, ketika Presiden Joko Widodo menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional.
Nama dan warisan kepahlawanan Malahayati terus diabadikan dalam berbagai bentuk, dari kapal perang TNI-AL hingga pelabuhan di Aceh Besar. Rencana pementasan teaterikal di Jakarta pada September 2023 akan menjadi penghormatan tambahan untuk menghidupkan kembali kisah heroik Laksamana Malahayati dan pasukan Inong Balee, memastikan bahwa warisan mereka tetap abadi dalam sejarah Indonesia.
Sumber : Portal Informasi Indonesia






