Panen Raya Cabe Jawa, Wahdi Apresiasi CJL Galakan Urban Farming di Kota Metro

Hasil Panen Urban Farming Komunitas Cabe Jawa Lampung di Kota Metro | Foto Ahmad Riko-warna.co
Hasil Panen Urban Farming Komunitas Cabe Jawa Lampung di Kota Metro | Foto Ahmad Riko-warna.co

Warna.co, Kota Metro – Komunitas Cabe Jawa Lampung (CJL) memperkenalkan peluang peningkatan ekonomi masyarakat, lewat pola pertanian perkotaan alias urban farming dengan komoditas cabe jawa.

Hal ini terlihat dari kegiatan panen raya puluhan batang cabe jawa berbagai varietas di Jalan Adipati II, Kelurahan Margorejo, Kecamatan Metro Selatan, Senin (12/8/2024).

Bacaan Lainnya

Wali Kota Metro, Wahdi mengapresiasi upaya komunitas CJL selaku pembudidayaan cabe jawa, yang diakuinya memiliki nilai ungkit yang lebih baik karena ketahanan tanamannya.

“Satu pohon bisa bertahan selama 10 tahun dan hasilnya bisa berulang-ulang,” ungkap Wahdi.

Sehingga, Wahdi menyoroti pentingnya konsep integrated farming, bukan hanya urban farming.

“Yang kita inginkan di rumah-rumah penduduk itu integrated farming. Jadi mulai dari sampah yang terbuang di rumah, hasil dapur dapat diolah,” jelasnya.

Oleh karrna itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Metro berharap pemberdayaan masyarakat serupa dapat terus berkembang dan menjadi pilot project untuk menghadirkan pariwisata pertanian di kota setempat.

“Pemberdayaan masyarakat ini harus dimunculkan. Orang bisa berkunjung dan melihat wisatanya, sehingga dari sini bisa dicontoh ke tempat yang lain,” tandasnya.

Wali Kota Metro, Wahdi saat diwawancarai usai ceremony panen raya cabe jawa berbagai varietas, di Jalan Adipati II, Kelurahan Margorejo, Kecamatan Metro Selatan, Senin (12/8/2024) | Foto Ahmad Riko-warna.co
Wali Kota Metro, Wahdi saat diwawancarai usai ceremony panen raya cabe jawa berbagai varietas, di Jalan Adipati II, Kelurahan Margorejo, Kecamatan Metro Selatan, Senin (12/8/2024) | Foto Ahmad Riko-warna.co

Dalam kesempatan yang sama, Ketua CJL, Ramil, menjelaskan bahwa metode urban farming dengan penanaman komoditas cabai Jawa memiliki prospek menguntungkan, bagi warga yang memanfaatkan lahan sempit perkotaan.

“Kami berinovasi untuk mengembangkan cabai Jawa melalui tabulampot atau urban farming,” ujarnya.

Ramil menambahkan bahwa peluang pembudidayaan cabe jawa di Metro memiliki nilai ekonomi yang tinggi, terutama karena besarnya permintaan pasar luar negeri.

“Untuk sementara kita masih di tingkat dalam provinsi, dengan harga jual terakhir berkisar Rp 80 ribu per kilogram,” jelasnya.

Komunitas ini membudidayakan tiga jenis varietas cabe jawa di Kota Metro, yaitu varietas Sumatera, hibrida Jember, dan Madura. Meski penanaman relatif mudah dan tanaman mampu bertahan hingga puluhan tahun.

“Meski begitu, tetap adanya tantangan berupa serangan hama penyakit kuning,” pungkas Ramil.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *